Aopok.com - Iding adalah sosok anak jalanan Ibukota. Remaja yatim piatu yang berusia 19 tahun itu sudah 3 tahun mengadu nasib di Jakarta. Dia merantau ke Ibukota, setelah kedua orangtuanya meninggal akibat wabah muntaber yang melanda desa Cikunir, Kabupaten Lebak. Dalam usianya yang relatif muda itu, Iding sudah tahu banyak tentang sex. Ketika tiba di Ibukota, dia terdampar di lokalisasi WTS Bongkaran.
Di sana dia ditampung oleh seorang mucikari untuk membantu membelikan rokok atau makanan dan minuman untuk para tamu, membersihkan kamar-kamar dan mencuci sprei. Pengalaman sexnya yang pertama adalah ketika salah satu wanita pekerja sex komersial di tempat itu iseng menghisap perangkat birahinya yang mungil, lalu mereguk air maninya yang masih segar kental kekuningan sebagai jamu awet muda. Iding tidak bisa melupakan kenikmatan dahsyat yang dialaminya pada usia 13 tahun itu. Sejak itu dia berusaha merasakan kenikmatan itu dengan segala cara.
Tapi ketika dia meminta para wanita penghibur yang lebih tua itu memberikannya kenikmatan itu, dia malah ditertawakan. Merasa kecewa dan sakit hati, maka dia membujuk bahkan adakalanya memaksa para anak laki-laki yang lebih kecil di sekitarnya untuk memuaskan nafsu birahinya yang menggebu. Kadang-kadang dengan imbalan jajan bakso, uang Rp 200 atau permen. Selama 3 tahun terakhir ini, sedikitnya 3 hari sekali dia melampiaskan nafsunya itu. Dia mencoba berbagai cara untuk mencapai puncak kenikmatan birahinya, misalnya dengan menjepitkan perangkat birahinya di selangkangan teman mainnya, memasukkan batang kejantanannya ke lubang dubur temannya kemudian memompanya atau sekedar saling mengocok batang kejantanan satu sama lain.
Rasa dendamnya akibat ditolak saat ingin “bersedap-sedap” dengan wanita penghibur di Bongkaran 3 tahun lalu, membuatnya sama sekali tidak berminat untuk berhubungan sex dengan lawan jenisnya. Lagipula, anak laki-laki yang lebih kecil selalu menuruti kemauannya. Untuk bertahan hidup di Ibukota, Iding berjualan koran di pagi dan sore hari. Dia biasa beroperasi di Stasiun Senen. Dengan penghasilan kotor sekitar Rp 300.000 sebulan, dia bisa menyewa pondokan (sebuah kamar berukuran 1,5 x 2 meter) di kawasan kumuh di sepanjang rel kereta api di daerah Tanah Tinggi. Kamar itu sangat sederhana, berdinding triplex, berjendela kawat, beratap seng dan lantai semen.
Artikel Terkait
Tapi dengan sewa Rp 50.000, lumayanlah sekedar tempat berteduh. Perabot di kamar itu hanya sehelai tikar usang, kapstok yang dipaku di pintu, sebuah cermin, sebuah lampu teplok, sebuah kotak karton tempat menyimpan pakaian dan sebuah kaleng berisi sikat gigi, pasta gigi dan sabun mandi.
Sore itu, seperti biasanya, Iding berjualan koran di peron Stasiun Senen Dia merasa gelisah. Perangkat birahinya terasa gatal, siap bertarung. Sudah 3 hari dia tak mengadu perangkat birahinya. Dia mulai bosan bertarung dengan teman yang itu-itu saja. Dia ingin melakukan permainan yang lebih asyik dan menggairahkan dengan pasangan main yang baru. Tiba-tiba dilihatnya Nday, anak gelandangan berusia sekitar 19 tahun, yang biasa mengemis di stasiun. Selama ini dia tak terlalu peduli pada anak kecil itu. Lanjut baca!

0 Response to "Viral! Istriku di Genjot Anak Jalanan"
Posting Komentar